Kapal Phinisi

Kapal Phinisi atau kapal pinisi adalah kapal legendaris yang merefleksikan nilai sosial sekaligus budaya kehidupan sehari-hari bangsa Indonesia. Kapal pinisi berasal dari Sulawesi Selatan (Sulsel). Sebagai kapal tradisional, pinisi digunakan oleh masyarakat dari Suku Bugis untuk menjelajahi lautan nusantara hingga mengarungi lautan berbagai penjuru dunia.

[caption id="attachment_4408" align="alignnone" width="1440"]kapal phinisi adalah kapal asli indonesia yang sudah di akui dunia xr:d:DAF3mAeFvVw:83,j:3504216984106680500,t:24012407[/caption]

Mengenal Lebih Dekat Kapal Pinisi sebagai Warisan Budaya Dunia


Kapal phinisi adalah khas dari daerah Bulukumba, Sulawesi Selatan. Pembuatan perahu pinisi bisa dijumpai di beberapa desa, seperti Tanah Beru, Batu Licin, dan Bira.

UNESCO telah memutuskan jika seni pembuatan pinisi dari Provinsi Sulawesi Selatan terpilih sebagai Warisan Budaya Dunia Tak Benda atau Intangible Cultural of Humanity. Kapal ini telah mendapatkan pengakuan sebagai bagian dari seni berlayar wilayah kepulauan yang tak terbilang nilainya.

Sejarah Kapal Pinisi


Sebagai bangsa Indonesia, mungkin sudah tidak asing lagi dengan penggalan lirik lagu anak-anak “nenek moyangku seorang pelaut”. Ternyata, imajinasi penulis lagu tersebut bukanlah karangan semata.

Pada kenyataannya, dunia mengenal Indonesia sebagai negara dengan sejarah kemaritimannya yang panjang. Sejarah kapal pinisi dimulai sejak abad ke-19. Kala itu, kata pinisiq atau penis mulai ditemukan.

Sejak 1500-an, pinisi sudah ada di Indonesia. Kapal ini seringkali digunakan oleh pelaut Bugis, Konjo, dan Mandar asli Sulawesi Selatan.

Putra mahkota dari Kerajaan Luwu yang bernama Sawerigading, merupakan pembuat kapal pinisi pertama kali. Pada saat itu memasuki abad ke-14.

Tujuan Sawerigading membuat pinisi adalah untuk memudahkan perjalanannya ke Tiongkok. Ia kemudian mempersunting We Cudai, seorang gadis cantik asal Tiongkok.

Setelah menikahi wanita pujaan hatinya, ia memutuskan untuk menetap selama beberapa waktu. Suatu hari, ia berencana untuk pulang ke kampung halamannya.

Namun, kapal yang ia tunggangi diterjang badai besar. Akibat peristiwa tersebut, kapal terpecah hingga menjadi tiga bagian dan terdampar di wilayah Kabupaten Bulukumba, yakni Tanah Beru, Ara, dan Lemo-Lemo.

Bagian-bagian kapal yang terpecah itu pun, dirakit kembali oleh masyarakat setempat. Bahkan, berubah menjadi kapal yang megah. Hingga saat ini, kapal tersebut dikenal dengan sebutan pinisi.

Dulunya, pinisi adalah kapal yang digunakan untuk perdagangan hingga mengangkut berbagai banyak barang. Namun, saat ini sudah banyak dimanfaatkan sebagai daya tarik tempat wisata.

Karakteristik Kapal Phinisi


Kapal pinisi adalah kapal bersistem layar pinisi yang mempunyai tujuh hingga delapan layar pada dua tiang. Sebagian orang menyebutnya sebagai “sekunar”, karena semua layar kapal ini adalah layar depan belakang.

Ukuran kapal ini bervariasi. Umumnya, memiliki panjang kurang lebih 50 sampai 70 kaki atau setara dengan 15,24 hingga 21,34 meter.

Memiliki garis air ketika muatan ringan yang berukuran 34 sampai 43 kaki atau setara dengan 10,36 hingga 13,1 meter. Palari yang berukuran kecil hanya memiliki panjang kurang lebih 10 meter.

Sebenarnya, ada beberapa jenis kapal phinisi yang sudah ditemukan. Namun, ada dua jenis yang paling umum kita ketahui, yakni palari dan lamba. Berikut ini adalah karakteristiknya.

  1. Palari


Salah satu jenis kapal phinisi adalah palari. Palari memiliki bentuk lambung dengan lunas yang berbentuk melengkung. Jika kita bandingkan dengan jenis lamba, ukurannya jauh lebih kecil.

Biasanya, menggunakan dua kemudi atau rudder pada bagian samping buritan. Jenis kapal yang sudah memanfaatkan tenaga mesin juga mendapatkan dukungan kemudi pada bagian belakang baling-baling. Namun, sebagian besar pinisi dengan mesin menggunakan lambung jenis lambo.

  1. Lamba atau Lambo


Lamba atau lambo merupakan phinisi modern yang sampai saat ini masih bertahan keberadaannya. Kapal ini menggunakan motor diesel atau PLM (Perahu Layar Motor).

Berbeda dengan palari, lamba memiliki satu kemudi pada bagian tengah. Akan tetapi, beberapa kapal memiliki dua kemudi samping yang berfungsi sebagai tambahan atau hiasan saja.

Bagian-Bagian Pinisi


Pinisi memiliki enam bagian utama yang menjadi karakteristiknya. Kapal pinisi adalah khas daerah Sulawesi yang memiliki anjong atau segitiga penyeimbang. Umumnya, berada pada bagian depan kapal. Selanjutnya, sombala atau layar utama yang memiliki ukuran hingga mencapai 200 meter.

Ada pula tanpasere atau layar kecil yang memiliki bentuk segitiga pada setiap tiang utamanya. Berikutnya, cocoro pantara atau layar bantu depan, cocoro tangnga atau layar bantu tengah, hingga tarengke atau layar bantu belakang.

Proses Pembuatan Phinisi


Proses pembuatan kapal pinisi bisa menghabiskan waktu selama berbulan bulanPembuatan kapal pinisi masih melalui cara tradisional.

Proses pembuatannya melalui tiga tahap utama. Setiap tahapan-tahapannya berdasarkan perhitungan suku Bugis. Berikut ini penjelasannya.

  1. Penentuan Hari Baik


Tahap pertama kali, yakni dengan menentukan hari baik untuk mencari kayu maupun bahan-bahan lain yang digunakan dalam pembuatan kapal. Biasanya, hari baik untuk mencari bahan baku atau kayu adalah hari kelima dan ketujuh pada bulan yang saat ini sedang berjalan.

Angka lima dan tujuh merupakan simbol yang memiliki makna tertentu. Angka lima adalah simbol naparilimai dalle’na yang memiliki arti rezeki sudah di tangan. Sedangkan angka tujuh merupakan simbol natujuangngi dalle’na yang artinya memperoleh rezeki.

Kayu untuk membuat kapal ini ada empat jenis, yakni kayu bikti, kayu jati, kayu besi, dan kayu kandole atau punaga.

  1. Menebang, Mengeringkan, serta Memotong Kayu


Setelah menentukan hari baik, tahapan selanjutnya adalah menebang, mengeringkan, serta memotong kayu. Kayu-kayu ini melalui proses perakitan menjadi sebuah perahu dengan melakukan pemasangan papan, tiang layar, lunas, hingga mendempul.

Pada saat meletakkan lunas harus menggunakan tahapan dan prosesi khusus. Saat proses pemotongan, posisi lunas menghadap ke arah timur laut.

Balok lunas pada bagian depan adalah simbol pria. Sedangkan balok lunas pada bagian belakang memiliki arti sebagai simbol wanita.

Langkah membuat kapal pinisi berikutnya, bagian yang akan melalui proses pemotongan diberi tanda dengan pahat. Pemotongan lunas harus dilakukan sekaligus dan tidak boleh berhenti. Proses pemotongan yang cukup ekstra inilah, membutuhkan banyak tenaga.

  1. Peluncuran Kapal ke Laut


Tahap terakhir, yakni peluncuran kapal layar ke laut. Sebelum itu, masyarakat setempat akan mengadakan upacara lopi atau mensucikan kapal.

Penyelenggaraan upaya tersebut melalui proses penyembelihan binatang. Jika pinisi memiliki bobot kurang dari 100 ton, maka penyembelihan binatang hanya satu ekor kambing saja. Sementara itu, jika pinisi memiliki bobot lebih dari 100 ton maka menyembelih satu ekor sapi.

Wisata dengan Menggunakan Kapal Pinisi

Ada beragam destinasi wisata Indonesia yang sudah menggunakan pinisi untuk menarik minat wisatawan. Seperti Kapal Phinisi Labuan Bajo, Kapal Phinisi Danau Toba, hingga Kapal Phinisi Raja Ampat.

Selain memiliki karakteristik bangunan kapal yang unik dan megah, wisatawan bisa mendapatkan sejumlah fasilitas. Misalnya saja kamar tidur, toilet, mini bar, dan fasilitas lainnya.

Pembuatan kapal pinisi tidak hanya memperhatikan ketelitian dari segi teknik saja. Akan tetapi, juga mengutamakan navigasi, sehingga kapal dapat berlayar dengan baik dan aman di lautan. Kapal pinisi merupakan warisan budaya yang membuat bangga bangsa Indonesia karena memilikinya.